MAKASSAR — Masalah parkir di Kota Makassar kembali jadi sorotan. Anggota Komisi B DPRD Makassar, William, menilai tata kelola sektor ini semrawut dan tidak transparan, bahkan sering kali menjadi sumber kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurutnya, parkir liar, tarif semaunya, hingga konflik antara instansi pengelola menjadi potret buruk sistem yang tak pernah selesai.
“Praktik di lapangan itu masih jauh dari tertib. Di Latimojong, tarif bisa Rp10.000 sampai Rp20.000 tanpa karcis. Itu sudah jelas pelanggaran,” ujarnya, Senin (7/7/25).
Ia juga menyinggung konflik antara PD Parkir Makassar dan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), yang sering saling klaim wilayah pengelolaan. Akibatnya, potensi pendapatan daerah tidak pernah maksimal.
“Semua jalan sendiri-sendiri. Tidak ada integrasi data, tidak ada transparansi. Wajar kalau PAD bocor ke mana-mana,” tegasnya.
William juga menilai penegakan aturan sangat lemah. Ia mencontohkan, memungut parkir tanpa dasar hukum di area publik seharusnya bisa dipidana, tapi di Makassar pelanggaran justru dianggap hal biasa.
“Kalau di Singapura, tiga kali melanggar parkir bisa kehilangan lisensi selamanya. Di sini, paling dikunci ban sebentar,” ujarnya.
Sebagai solusi, William mengusulkan pendekatan kreatif dan insentif bagi masyarakat. Salah satunya meniru sistem di Bali, di mana karcis parkir dijadikan kupon undian berhadiah untuk mendorong kepatuhan.
“Hadiah kecil seperti rice cooker pun cukup memotivasi warga untuk minta karcis. Itu cara sederhana tapi efektif,” jelasnya.
Selain itu, ia mendorong agar Pemerintah Kota Makassar menggandeng pihak swasta membangun lahan parkir bertingkat dengan skema kerja sama yang transparan.
“Tapi harus ada PKS yang jelas. Hitung bagi hasil, berapa persen, berapa tahun. Investor tidak mau rugi,” tegasnya.
William menilai pembenahan sektor parkir tidak boleh lagi hanya fokus pada retribusi, tapi juga pada fungsi sosial dan tata ruang kota.
“Kalau petugasnya saja tidak tertib, bagaimana warga mau patuh? Pemerintah harus mulai memberi contoh,” pungkasnya. (*/AC)








