Miris, Warga Berutallasa Tak Dapatkan Pelayanan Medis Dari Pemerintah, Ini Kata Ketua Ardiarsa

oleh

ACCARITA, — Pandemi covid-19 tidak hanya merenggut kesehatan dan nyawa, tetapi juga menggerogoti perekonomian. Pemerintah memprediksi jumlah pengangguran dan angka kemiskinan Indonesia bisa naik. Dalam skenario terberat saat pandemi, jumlah warga miskin diperkirakan bisa bertambah 3,78 juta orang dan pengangguran bertambah 5,23 juta orang.

Meningkatnya jumlah penduduk miskin tersebut dipastikan berdampak terhadap prevalensi stunting, yang merupakan prioritas program kerja pemerintah. Target pemerintah menurunkan stunting hingga 14 persen dinilai sulit dicapai apabila perhatian terhadap gizi anak di tengah masa pandemi covid-19 ini berkurang.

Ketua LSM PERAK Sulsel Adiarsa MJ, SH menyayangkan perhatian pemerintah terhadap stunting dan gizi buruk yang teralihkan akibat covid-19.

“Yang harus disadari, stunting ini dampaknya 30 tahun mendatang. Saat dunia makin kompetitif, anak-anak yang hari ini tidak cukup gizinya akan semakin terbelakang,” ujar Adiarsa, Sabtu (27/6/20).

Disebutkan Adiarsa, penanganan stunting dan gizi buruk seharusnya tidak lantas terhenti akibat pandemi. Sebab dapat tetap dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan program bantuan pangan yang lebih tepat sasaran. Tepat sasaran yang dimaksud Adiarsa bukan hanya penerima, namun juga komposisi isinya harus memenuhi kebutuhan gizi anak dan keluarga.

“Sekarang di dalam bantuan pangan atau sembako, ada produk tinggi kandungan gula seperti susu kental manis. Inikan tidak tepat diberikan kepada masyarakat apalagi nanti jadi konsumsi anak-anak. Jadi saya harap hindari memasukkan makanan yang tidak baik untuk pertumbuhan,” tegas Adiarsa.

Dg. Samiri warga Desa Berutallasa

Senada dengan ditemukannya masyarakat miskin yang tak tersentuh pemerintah, salah satunya Dg Samiri warga Dusun binaarung Desa Berutallasa Kecamatan Biringbulu Kabupaten Gowa.

“Kami sayangkan sekali Dg Samiri sudah puluhan tahun tak mendapatkan bantuan jenis perawatan medis atau kesehatan,” ucap Adiarsa.

Kami juga berharap sebagai lembaga Kontrol Sosial, agar ada bentuk perhatian dari pihak pemerintah setempat agar orang miskin tersebut mendapatkan bantuan medis kesehatan karena jika dibiarkan maka dampaknya akan merenggut nyawa masyarakat.

“Pemerintah ini seharusnya tidak boleh berhenti karena menyangkut program prioritas, salah satunya adalah stunting. Bayangkan, sudah ada tahunan Dg. Samiri, mengalami sakit sudah tahunan,” pungkasnya.

Ditempat terpisah, dikomfirmasi
Aripin Kepala Desa Berutallasa memaparkan melalui telpon selularnya terkait warganya yang sedang sakit.

“Untuk masalah Dg. Samiri itu diduga mengalami penyakit AIDS itupun informasi dari warga dekat rumahnya,” paparnya.

“Saya akan datangi warga tersebut, untuk memastikan kejelasan dari informasi dari warga dan saya selaku pemerintah setempat akan mengambil langkah dengan memfasilitasi untuk bantuan medisnya,” tambahnya.

Lanjutnya, selama ini kami juga melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pelayanan kesehatan.

“Apabila ada warga atau masyarakat yang membutuhkan bantuan perawatan medis agar kiranya dapat menghubungi puskesmas terdekat ataupun kantor desa agar segera diberikan pelayanan kesehatan,” tutupnya

(RD-1)

Tentang Penulis: Penulis Website

Pimpinan Redaksi Accarita.com