DLH Makassar Dikepung Kritik: Armada Rusak, Layanan Sampah Mandek, DPRD Siap Kawal Anggaran Perubahan

oleh

MAKASSAR — Warga Kota Makassar tengah dilanda frustrasi. Tumpukan sampah berserakan di depan rumah, bau menyengat merambah ke jalan, dan layanan pengangkutan yang macet berhari-hari. Di tengah situasi ini, masyarakat ramai-ramai meluapkan keluhan di media sosial, menandai akun pemerintah kota dengan satu pertanyaan besar: ke mana Dinas Lingkungan Hidup (DLH)?

Ironisnya, sebagian besar warga mengaku tetap membayar iuran sampah setiap bulan. Bahkan, setelah pemerintah kota meluncurkan kebijakan iuran gratis, kualitas layanan justru semakin menurun. Kritik paling tajam datang dari warga yang merasa “membayar tapi tidak dilayani”.

“Percuma gratis kalau sampah tidak diambil. Ini dibayar saja malas datang, apalagi gratis,” tulis akun @faizahsyafania di X, menanggapi unggahan video tumpukan sampah di kawasan Taman Sudiang.

Di tengah gelombang protes itu, Anggota DPRD Kota Makassar, Basdir, dari Komisi B, membenarkan bahwa DLH sedang menghadapi krisis armada.

“Kemarin kami sudah bahas langsung dengan Kepala DLH. Banyak truk yang kondisinya memprihatinkan — bolong, bocor, bahkan nyaris rongsokan. Itulah yang bikin pengangkutan jadi lambat,” ungkapnya. Sabtu (05/07/25).

Basdir mengatakan, DPRD berencana mendorong anggaran peremajaan armada dalam APBD Perubahan yang akan segera dibahas. Menurutnya, penguatan infrastruktur teknis dan manajemen pengangkutan menjadi langkah prioritas dalam memperbaiki sistem kebersihan kota.

“Kami ingin kendaraan kecil yang bisa masuk lorong-lorong juga disiapkan. Jadi nanti bukan hanya truk besar yang jalan,” katanya.

Politisi ini menilai persoalan kebersihan harus menjadi agenda utama pemerintahan baru. Ia meminta masyarakat bersabar sambil menunggu hasil pembahasan anggaran, namun menegaskan bahwa DPRD akan bersikap tegas bila perbaikan tak kunjung terlihat.

“Kalau anggaran sudah kami setujui tapi hasilnya tetap buruk, maka DPRD akan bertindak. Kami akan gunakan fungsi pengawasan secara penuh,” tegas Basdir.

Kondisi di lapangan memang memperihatinkan. Sejumlah kawasan seperti Biringkanaya, Tamalanrea, hingga Panakkukang dilaporkan menumpuk sampah lebih dari seminggu. Beberapa warga bahkan terpaksa membakar sampah di halaman rumah mereka untuk menghindari bau menyengat.

“Bukan soal gratis atau bayar, tapi tolong jangan biarkan kota ini jadi tempat sampah terbuka,” tulis akun @Lily di X.

Basdir menutup dengan pesan keras: “Persoalan sampah bukan sekadar urusan DLH. Ini menyangkut citra kota, kesehatan warga, dan kepercayaan publik. Pemerintah harus bersungguh-sungguh memperbaikinya.” (*/AC)

No More Posts Available.

No more pages to load.