MAKASSAR — Perubahan wajah Kota Makassar kini mulai menimbulkan kekhawatiran. Lahan persawahan yang dulu menjadi benteng hijau dan penopang ketersediaan pangan perlahan lenyap, tergantikan oleh perumahan, pusat perbelanjaan, dan proyek infrastruktur.
Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, kebutuhan beras Makassar mencapai 10–11 ton per bulan. Namun, data menunjukkan lahan sawah yang tersisa hanya sekitar 1.300–1.400 hektare.
Kondisi ini dikhawatirkan membawa dampak ekologis dan sosial jangka panjang. Suhu udara kota meningkat, resapan air berkurang, dan ketergantungan pangan terhadap daerah sekitar kian besar.
“Kalau sawah habis, kita bukan hanya kehilangan ruang hijau, tapi juga sumber kehidupan,” kata Rini (38), warga Makassar, Rabu (27/8).
Menanggapi hal itu, Sekretaris Komisi B DPRD Makassar, Andi Tenri Uji Idris, menyebut alih fungsi lahan tidak bisa dipandang remeh. Ia menilai, mayoritas sawah kini milik warga yang memilih menjual karena alasan ekonomi.
“Kita tidak bisa menahan warga menjual lahannya. Tapi pembangunan juga tidak boleh mengorbankan keseimbangan ekologis,” tegasnya.
Ia mendesak pemerintah menetapkan zona persawahan dan penghijauan permanen, agar tidak mudah dialihfungsikan. Menurutnya, kunci pengendalian ada pada tata kelola perizinan dan pengawasan BPN dalam setiap transaksi lahan.
“Kalau izin pembangunan dikelola ketat, sawah bisa tetap terjaga di tengah pesatnya pembangunan,” ujarnya.
Sementara itu, pengamat lingkungan Sulkia Reski menilai hilangnya sawah akan berdampak langsung pada iklim mikro kota.
“Persawahan bukan hanya soal pangan, tapi fungsi ekologis. Kalau hilang, suhu kota naik, potensi banjir meningkat, dan cadangan pangan menipis,” ujarnya.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin (Appi) juga menegaskan pentingnya menjaga siklus pertanian di tengah urbanisasi. Ia mendorong penerapan teknologi pertanian modern serta urban farming berbasis RT/RW sebagai solusi keberlanjutan.
“Jika pertaniannya tumbuh subur dan sampah terkelola, insya Allah Makassar akan menjadi kota yang lebih baik,” pungkasnya. (*)









